DoneThat
  • Beranda/
  • HR/
  • Cara Membuat CV Lamaran Kerja yang Bagus, dari Kacamata Orang HR
HR
  • 29 September 2026
  • Ditulis oleh Julfan Wijaya

Cara Membuat CV Lamaran Kerja yang Bagus, dari Kacamata Orang HR

Julfan Wijaya

Ditulis oleh Julfan Wijaya

Anggota staf HR menganalisis resume kandidat di kantor dengan beberapa dokumen dan laptop di meja.

Lamaran yang tidak pernah dibalas jarang sekali gagal karena kamu kurang mampu. Lebih sering, CV-nya tidak sempat dibaca sampai ke bagian yang penting. Aku mengurus HR dan operasional sejak 2016, dan bagian yang paling aku suka dari pekerjaan ini adalah interview kandidat. Tapi kandidat baru sampai ke meja interview kalau CV-nya lolos dua penyaring lebih dulu: sistem, lalu mata orang yang membacanya. Tulisan ini membahas cara membuat CV lamaran kerja yang lolos keduanya, dari sudut pandang orang yang duduk di sisi penyaring.

Yuk kita mulai dari cara CV kamu sebenarnya dibaca, karena dari situ semua aturan lain jadi masuk akal.

Bagaimana CV kamu sebenarnya dibaca

CV lamaran kerja biasanya dibaca dua kali: pertama oleh sistem penyaring lamaran, lalu sekilas oleh manusia yang memutuskan kamu dipanggil atau tidak.

Sistem penyaring itu disebut ATS (applicant tracking system), software yang menyimpan, mengurutkan, dan menyaring lamaran yang masuk. Pemakaiannya sudah sangat luas. Laporan Jobscan 2026 mendeteksi ATS di 97,4 persen perusahaan Fortune 500, atau 487 dari 500 perusahaan, dan angkanya bertahan di kisaran 97 sampai 99 persen sejak 2018.

Setelah lolos sistem, CV-mu dibaca manusia, dan waktunya singkat. Studi pelacakan mata yang dilakukan Ladders pada 2018 mencatat rekruter menghabiskan rata-rata 7,4 detik untuk penyaringan pertama sebuah CV, hanya sedikit lebih lama dari sekitar enam detik di studi 2012. Dalam studi yang sama, CV yang bertahan punya tata letak sederhana, judul bagian yang jelas, jabatan yang mudah ditemukan, dan pencapaian dalam bentuk poin. Yang tersisih justru CV yang padat, berkolom ganda, dan penuh kalimat panjang.

Angka tujuh detik itu terdengar kejam. Tapi coba bayangkan satu lowongan yang menerima lamaran jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang bisa dipanggil interview. Penyaring tidak sedang mencari alasan untuk menolakmu. Ia sedang mencari tanda secepat mungkin bahwa kamu layak dibaca lebih lama. Tugas CV-mu adalah memberi tanda itu di tempat yang langsung terlihat.

Struktur CV lamaran kerja yang aman

Struktur CV yang aman adalah urutan bagian yang dikenali sistem dan sudah diharapkan pembaca, sehingga tidak ada yang perlu dicari-cari.

Urutan yang aku sarankan untuk hampir semua pelamar:

  1. Nama dan kontak. Nama lengkap di baris paling atas, lalu email, nomor HP yang aktif di WhatsApp, dan kota domisili. Tautan LinkedIn boleh ditambahkan kalau profilnya terisi.
  2. Ringkasan singkat. Dua sampai tiga kalimat tentang siapa kamu secara profesional dan apa yang kamu bawa untuk posisi ini.
  3. Pengalaman kerja. Urut dari yang terbaru. Termasuk magang, kerja paruh waktu, dan proyek lepas.
  4. Pendidikan. Institusi, jurusan, tahun lulus. IPK dicantumkan kalau bagus atau diminta.
  5. Keahlian. Tools, software, dan kemampuan teknis yang relevan, ditulis sebagai teks biasa.
  6. Sertifikasi dan pelatihan. Nama sertifikat, penerbit, dan tahunnya.

Kalau kamu lulusan baru dengan pengalaman kerja yang masih tipis, pendidikan boleh naik ke atas pengalaman. Pembahasan lengkapnya ada di panduan CV untuk fresh graduate di bagian lain DoneThat.

Supaya lebih kebayang, ini kesalahan yang paling sering muncul di tiap bagian:

BagianYang dicari pembacaKesalahan yang sering muncul
Nama dan kontakBisa dihubungi dalam satu klikKontak ditaruh di header dokumen atau dalam bentuk ikon
RingkasanPosisi apa, bawa apaKalimat umum seperti "pekerja keras dan mau belajar"
PengalamanHasil kerja, skala, tanggung jawabDaftar tugas yang disalin dari deskripsi jabatan
PendidikanRelevansi dan tahunRiwayat sejak SD
KeahlianKata kunci yang cocok dengan lowonganBar persentase atau bintang lima
SertifikasiNama, penerbit, tahunSertifikat seminar yang tidak berhubungan

Menulis ringkasan yang tidak klise

Ringkasan CV adalah dua sampai tiga kalimat di bawah nama yang menjawab satu pertanyaan pembaca: kamu ini siapa, dan apa yang kamu bawa untuk posisi ini.

Bagian ini sering diisi kalimat yang terdengar bagus tapi tidak mengatakan apa-apa. "Saya pribadi yang jujur, disiplin, pekerja keras, dan mau belajar" bisa ditulis oleh siapa saja, jadi pembaca melewatinya tanpa mengingat apa pun. Bukan berarti sifat-sifat itu tidak penting. Masalahnya, sifat hanya bisa dibuktikan lewat pengalaman, bukan lewat pengakuan.

Ringkasan yang bekerja biasanya berisi tiga unsur:

  1. Identitas profesional. Bidang dan lama pengalaman, atau jurusan kalau kamu lulusan baru.
  2. Keahlian yang paling relevan. Dua atau tiga saja, yang sesuai dengan lowongan.
  3. Arah. Posisi atau jenis pekerjaan yang sedang kamu cari.

Contohnya: "Staf administrasi dengan tiga tahun pengalaman mengelola data penjualan dan dokumen pengiriman. Terbiasa memakai Excel untuk rekap harian dan laporan bulanan. Mencari posisi admin operasional di perusahaan distribusi." Tiga kalimat, dan pembaca sudah tahu apakah kamu cocok sebelum turun ke bagian pengalaman.

Tulis ringkasan paling akhir, setelah bagian lain selesai. Menulisnya di awal hampir selalu berujung pada kalimat umum, karena kamu belum melihat isi CV-mu sendiri secara utuh. Ringkasan juga bagian yang paling layak diganti untuk setiap varian CV, karena di situlah arah lamaranmu disebut dengan jelas.

Menulis pengalaman yang terbaca sebagai hasil

Pengalaman yang kuat menunjukkan apa yang berubah karena kamu ada di posisi itu, bukan sekadar daftar tugas yang kamu kerjakan.

Ini bagian yang paling mudah diperbaiki, dan kabar baiknya, perbaikannya tidak butuh pengalaman tambahan. Isinya sudah ada. Cara menuliskannya saja yang perlu diubah.

Coba bandingkan dua kalimat ini untuk pekerjaan yang sama persis:

  • "Handle sales dan urus stok gudang."
  • "Mengelola penjualan harian dan persediaan gudang untuk 3 cabang, dengan pencatatan stok yang rapi setiap minggu."

Kalimat kedua memberi pembaca tiga hal sekaligus: apa pekerjaannya, seberapa besar cakupannya, dan seberapa rutin kamu menjaganya. Polanya bisa kamu pakai untuk setiap poin pengalaman:

  1. Mulai dengan kata kerja yang jelas: mengelola, menyusun, menangani, memperbaiki, melatih.
  2. Sebutkan apa yang kamu kerjakan.
  3. Tambahkan skala: berapa cabang, berapa orang, berapa transaksi, seberapa sering.
  4. Tutup dengan hasil atau standar yang kamu jaga.

Soal angka, satu aturan penting: pakai angka yang benar. Kalau kamu tidak ingat persentase kenaikannya, jangan dikarang. Skala sudah cukup kuat. "Menangani keluhan pelanggan untuk dua toko" tetap jauh lebih baik daripada "melayani pelanggan".

Kalau kamu bingung harus menulis apa, bagaimana kalau kita coba satu pertanyaan ini: seandainya kamu tidak masuk kerja selama sebulan, apa yang akan berantakan? Jawaban dari pertanyaan itu biasanya adalah poin pengalaman terbaikmu.

Tiga sampai lima poin per pekerjaan sudah cukup. Pekerjaan yang paling relevan dengan lowongan boleh mendapat poin lebih banyak, yang kurang relevan cukup satu atau dua.

Sesuaikan CV dengan lowongan yang kamu lamar

Menyesuaikan CV berarti memakai kata kunci dari iklan lowongan untuk hal yang memang benar kamu miliki, supaya sistem dan pembaca langsung melihat kecocokannya.

ATS mencocokkan isi CV dengan kebutuhan posisi. Kalau iklan menyebut "Microsoft Excel" dan CV-mu hanya menulis "pengolahan data", sistem bisa saja tidak menganggap keduanya sama. Pembaca manusia pun lebih cepat yakin kalau melihat istilah yang ia tulis sendiri di iklan.

Caranya tidak rumit:

  1. Baca iklan lowongan dan tandai kata kunci keahlian, tools, dan jenis pengalaman yang diminta.
  2. Cek mana yang benar-benar kamu punya.
  3. Pakai istilah yang sama persis di bagian keahlian dan di poin pengalaman yang relevan.
  4. Geser pengalaman yang paling cocok ke posisi yang paling mudah terlihat.

Yang tidak boleh: menyalin seluruh iklan ke dalam CV, atau menulis keahlian yang tidak kamu kuasai. Kata kunci yang tidak didukung pengalaman akan ketahuan di interview, dan itu jauh lebih merugikan daripada tidak dipanggil.

Praktisnya, simpan satu CV utama yang lengkap, lalu buat varian per bidang yang sering kamu lamar. Misalnya satu untuk posisi admin, satu untuk posisi penjualan. Menyesuaikan varian untuk satu lowongan cukup lima sampai sepuluh menit kalau dasarnya sudah rapi.

Format yang aman untuk sistem dan mata HR

Format yang aman adalah tampilan yang teksnya bisa dibaca utuh oleh mesin dan bisa dipindai cepat oleh manusia.

Desain yang terlalu kreatif sering bagus di mata pembuatnya, tapi berantakan saat dibaca sistem. Ini hal-hal yang paling berpengaruh:

  1. Teks harus bisa dibaca mesin. CV hasil scan atau foto tidak terbaca sama sekali oleh ATS. Buat dari dokumen teks, lalu simpan sebagai PDF.
  2. Satu kolom. ATS membaca dari kiri ke kanan lalu ke bawah. CV dua kolom sering tercampur jadi kalimat yang tidak masuk akal.
  3. Nama di baris paling atas. Baris pertama biasanya diambil sebagai nama kandidat. Judul "Curriculum Vitae" di atas nama justru mengacaukannya.
  4. Kontak ditulis sebagai teks biasa. Email dan nomor HP yang ditaruh di header dokumen atau dalam bentuk ikon sering tidak ikut terbaca.
  5. Judul bagian yang standar. Pakai "Pengalaman", "Pendidikan", "Keahlian", "Sertifikasi". Judul kreatif seperti "Perjalananku" tidak dikenali.
  6. Tanggal dengan satu format. Pilih satu, misalnya "Jan 2024 – Mar 2025", dan pakai konsisten.
  7. Keahlian sebagai kata kunci. Minimal lima keahlian dalam teks biasa, bukan bar atau bintang.
  8. Huruf utuh, ukuran minimal 9 pt, maksimal dua halaman. Ikon dari font simbol dan teks terlalu kecil sering hilang saat dibaca mesin.

Pembahasan yang lebih dalam soal cara kerja sistem ini ada di panduan CV ATS friendly DoneThat.

Kalau kamu ingin tahu apa yang benar-benar terbaca mesin dari CV-mu sekarang, unggah saja ke Cek CV ATS gratis. Hasilnya berupa skor dan daftar bagian yang terbaca maupun yang hilang. Cek ini gratis, tanpa akun, berkasnya tidak disimpan, dan bisa dipakai sampai lima kali per jam.

Hal kecil yang sering membuat CV tersisih

Hal kecil di CV jarang jadi alasan utama kamu diterima, tapi cukup sering jadi alasan kamu tidak dibaca lebih lanjut.

Beberapa yang paling sering:

  • Email yang tidak profesional. Buat alamat email sederhana berisi nama kamu. Alamat email sejak SMP sebaiknya disimpan untuk urusan lain.
  • Nama file yang membingungkan. "CV final revisi 3.pdf" susah dicari lagi. Pakai format "Nama Lengkap - Posisi.pdf".
  • Salah ketik. Satu typo di nama perusahaan yang kamu lamar terasa seperti tanda kamu tidak teliti. Baca ulang dengan suara keras, atau minta teman membacanya.
  • Data pribadi berlebihan. Nomor KTP, alamat lengkap, dan nama orang tua tidak perlu ada di CV. Data seperti itu baru diminta di tahap administrasi, dan menyebarkannya di setiap lamaran membuka risiko yang tidak perlu.
  • Foto yang asal ambil. Kalau lowongan meminta foto, pakai foto formal dengan latar polos. Kalau tidak diminta, foto boleh tidak dicantumkan.
  • Riwayat yang tidak dijelaskan. Jeda kerja yang panjang bukan masalah besar. Satu baris penjelasan singkat, misalnya merawat keluarga atau melanjutkan kuliah, lebih baik daripada dibiarkan kosong.

Kalau kamu sudah mengirim banyak lamaran tanpa kabar, rasa capek itu wajar. Coba jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu tidak layak. Periksa dulu daftar di atas satu per satu. Sering kali yang perlu diperbaiki cuma dua atau tiga hal.

Membuat CV dari nol tanpa ribet

Membuat CV dari nol paling mudah kalau dikerjakan per bagian, bukan sekali duduk sampai selesai.

Kalau kamu belum punya CV, atau CV lamamu sudah terlalu tambal sulam untuk diperbaiki, mulai ulang sering lebih cepat. Urutan kerjanya:

  1. Kumpulkan bahan dulu: riwayat kerja dengan tanggal, ijazah, sertifikat, dan daftar tools yang kamu kuasai.
  2. Isi nama, kontak, dan pendidikan. Ini bagian yang paling cepat.
  3. Tulis poin pengalaman dengan pola kata kerja, cakupan, skala, dan hasil tadi.
  4. Susun ringkasan paling akhir, setelah kamu tahu isi CV-mu sendiri.
  5. Cek ulang formatnya, lalu simpan sebagai PDF.

Untuk langkah itu kamu bisa memakai pembuat CV gratis di karir.langkahkerja.id. Pengisiannya dibagi tiga babak, setiap bagian yang selesai langsung tersimpan, dan kamu bisa melanjutkan dari HP mana pun memakai kode yang diberikan. Kami juga membantu merapikan kalimat pengalaman seperti contoh "handle sales" di atas. CV yang sudah jadi bisa dibagikan sebagai halaman tanpa nomor HP terpampang.

Sebagai catatan supaya jelas: karir.langkahkerja.id adalah layanan dari LangkahKerja.id, yang juga aku kelola. Jadi anggap rekomendasi ini datang dari orang yang ikut membangunnya.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa halaman CV yang ideal?

Satu sampai dua halaman. Untuk fresh graduate dan pengalaman di bawah tiga tahun, satu halaman biasanya cukup. Lebih dari dua halaman jarang dibaca sampai habis.

Perlukah foto di CV lamaran kerja?

Tidak wajib, kecuali lowongan memintanya. Kalau dicantumkan, pakai foto formal dengan latar polos. Foto tidak dibaca oleh ATS, jadi tidak menambah atau mengurangi skor sistem.

Sebaiknya CV ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris?

Ikuti bahasa iklan lowongannya. Iklan berbahasa Inggris biasanya mengharapkan CV berbahasa Inggris, dan sebaliknya.

Apa bedanya CV dengan surat lamaran kerja?

CV adalah ringkasan riwayat pendidikan, pengalaman, dan keahlianmu. Surat lamaran menjelaskan kenapa kamu cocok untuk satu posisi tertentu. CV bisa dipakai berulang, surat lamaran ditulis ulang untuk setiap lowongan.

Lebih baik kirim CV dalam PDF atau Word?

PDF, kecuali lowongan meminta DOCX. PDF menjaga tampilanmu tetap sama di perangkat mana pun, selama teksnya dibuat dari dokumen dan bukan hasil scan.

Langkah berikutnya

Kalau CV-mu sudah ada, mulai dari yang paling cepat: lihat dulu apa yang terbaca sistem lewat Cek CV ATS, lalu perbaiki bagian yang hilang. Kalau belum punya, atau yang sekarang sudah terlalu banyak tambalan, buat CV baru di karir.langkahkerja.id dan isi pelan-pelan, bagian yang sudah selesai akan tersimpan sendiri.

Topik:HR

Tulisan Terkait